Yessi Pratiwi Surya Budhi
I Have My Say. What Is Yours?

Tidak Menginginkan Cinta

By Yessi Pratiwi Surya Budhi

Pertama kali aku mencintaimu adalah kali pertama aku juga menyerahkanmu. Aku rela. Tanpa kata pembuka dan penutup. Aku rela. Titik.

Aku menyebutnya akhir khayalan. Sebuah ujung atas penantian yang panjang, atas hal-hal yang selama ini memenuhi pikiran kita berdua.

Kamu hadir kembali ketika hidup sedang menawarkan bagian terbaiknya padaku. Dengan segala jawaban yang membuatku tidak akan bertanya lagi, sehingga tidak ada yang bisa membuatku berhenti, aku bilang cinta ya cinta.

Kemudian sentuhan itu hadir kembali.
Senyuman itu ada lagi. Kamu ada lagi.

Aku tidak terlanjur merasa nyaman dengan apa yang aku miliki. Tapi kamu datang disaat yang tidak beririsan dengan jalanku, saat mencintainya adalah kebutuhan buatku.

 

SIAWARE XIV

By Yessi Pratiwi Surya Budhi



..........
...............
..................
Pada akhirnya,
akulah kebahagiaan itu.

*Untuk setiap insan yang punya mimpi, dan rela berlari, terjatuh, terluka, tertatih, sakit, dan berlinangan air mata untuk itu

 

Selamat Jalan, Cal...

By Yessi Pratiwi Surya Budhi

Bahkan aku tidak sempat memastikan jantung ini masih berdetak. Yang kurasa, dunia berhenti berputar dan sakit berdesakan mau keluar. Sakit, tapi aku tidak tau harus berucap apa. Cal, apakah sama seperti ini juga sakit yang kamu derita di penghujung usiamu?

Empat tahun yang lalu.

Mereka tertawa. Katanya :
"Eh, Echi sama Ical mirip yah? Dari namanya aja udah mirip. Kayak adik kakak"

Waktu itu aku masih tingkat satu. Pertama kali kita berkenalan. Mereka bilang kita mirip, mungkin karena kita sama-sama gondrong, punya gigi yang berantakan, dan tulang pipi yang menonjol.

Cal, maaf aku belum sempat bilang, setiap ketemu kamu, bicara dengan kamu, YMan sama kamu, SMSan sama kamu, aku merasakan kesejukan disini. Entahlah, aku saat itu begitu ingin bisa menjalani hidup seperti kamu. Sederhana. Bahkan dengan kesederhanaanmu, kamu masih punya sangat banyak waktu untuk berbagi dengan ikhlas. Aku mencatat itu.

Cal, aku nggak tau harus mulai darimana mengawali cerita ini. Tentang impianmu untuk menunaikan ibadah menikah dan membina keluarga sakinah. Tentang kerelaaan menggadaikan milikmu yang tersisa demi orang yang kau kasihi. Tentang kekecewaan, tentang harapan, tentang kamu yang rela dipandang hina asal oleh manusia lain namun tidak dihadapanNya, tentang semua—dimana lantas aku hanya bisa menyimpulkan dengan gamblang : Kamu pria baik yang sangat bertanggungjawab, kamu pantas berbahagia, walau aku yakin, kamu pasti tidak memikirkannya. Aku nggak mau mengungkit lagi tentang kesibukanmu memikirkan apa yang bisa diperbuat bagi orang lain.

Yang aku ucapkan saat mengantarkanmu menuju Jakarta kemarin adalah
"Sampai ketemu Cal, pas kamu udah sembuh", namun Tuhan ternyata sudah menentukan jalan buatmu.

Selamat jalan, Ical.


Seorang sahabat dan saudara.
Ical yang kalau nggak ada kamu, aku nggak bisa jadi video editor.
Ical yang kalau nggak ada kamu, nggak akan ada Agung di PSIK.
Ical yang kalau nggak ada kamu, mungkin Hamal nggak akan pernah bisa masak nasi.
Ical yang kalau nggak ada kamu, hidupnya Dio mungkin udah berantakan.



Tuhan, kami ikhlaskan saudara kami, sahabat kami..
Kami adalah saksi keindahan dan kebaikannya
Berikan ia tempat yang layak, sempurnakan amal ibadahnya
Dengan apa yang telah ia berikan kepada kami

Selamat jalan, Ical..

Alm. Faisal Riza, Astronomi ITB'97
Ketua Himpunan Mahasiswa Astronomi ITB'99
Sutradara Film "Atjeh Humanitarian Act" PSIK ITB

 

7

By Yessi Pratiwi Surya Budhi

Sayang, hari ini aku bawaannya senyum terus. Kenapa yah? Mungkin karena aku ingat lagi, ini hari pertamaku mengenakan cincin darimu. Waktu itu kamu terlihat sangat culun, tau nggak? :)



Sayang, ingatkah, doa kita di Ramadhan kemarin? Bahwa kita berharap untuk semakin dekat denganNya dan ...

dekat dengan suatu waktu.

Dimana aku akan membangunkanmu, mengecup dahimu, mengelus rambutmu, kukecup sekali lagi, lalu berucap, “Sayang, Sholat Shubuh yuk”.. Kamu jadi imam, buatku, buat anak-anak kita. Kita kemudian menikmati Matahari dan bersyukur atas cinta yang kita terima.

Kemudian aku buatkan teh kesukaanmu, yang manis, yang hangat.. Lalu kamu berangkat kerja setelah mengecupku dan meyakinkan kalau kamu akan pulang secepatnya...

...dan aku akan mengkoleksi sejuta resep makanan dan membuat dapur kita tidak pernah sepi makanan. Ohya, sayur asem buatanku mungkin belum level advanced, tapi aku bisa masak sayur brokoli enak loh! Lengkap dengan kerupuk dan tahu kesukaanmu :)

...dan aku akan belajar menjahit lagi, kamu tau nggak, dulu aku sempat pintar menyulam. Itu loh, yang gambarnya lucu-lucu dan suka ditempelin di dinding! Kan lumayan, kalau aku harus diam di rumah saat mengandung anak kita..

...dan aku tidak akan pernah bosan untuk mengingatkanmu membawa Handphone, charger, dompet, dan jam tangan..

...dan perjalanan panjang yang siap kita ukir dengan cinta dan kasih yang ikhlas..

...dan aku tidak akan bosan menyayangi...

7 Oktober 2008

 

Ramadhan Kali ini, Adalah "Harmoni"

By Yessi Pratiwi Surya Budhi

Ramadhan ini, tentu saja membuat sajadah di kosan jadi lebih sering digelar. Tempatku bersujud dan berharap bisa menyentuhNya. Lima belas hari berlalu. Tepat di tengah.

Akhirnya, aku harus menyerah, bukan waktu yang terbaik bagiku untuk wisuda Oktober. Tuhan punya rencana lain.

Dan akhirnya, banyak hal yang membuatku harus lebih rela menerima dan melepaskan sesuatu. Tentang menciptakan kebahagiaan dengan sesuatu yang diyakini, bukan yang absurd. Tentang berjalan dengan segenap passion. Tentang menanggalkan baju dan mencoba baju yang baru.

Harmoni

Aku mengenal dikau
tak cukup lama
separuh usiaku
namun begitu banyak
pelajaran yang aku terima

kau membuatku mengerti hidup ini
kita terlahir bagai selembar kertas putih
tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni

segala kebaikan takkan terhapus
oleh kepahitan
kulapangkan resah jiwa
karena kupercaya
kan berujung indah


Dan akhirnya, hanya waktu yang membuat kita mengerti, kebahagiaan itu datang dari kita sendiri. Memilih apa yang patut dilakukan dan tidak, apa yang dipercayai, apa yang diyakini, dan berhenti memperdebatkan persoalan baik dan buruk, benar atau salah.

Kemudian kuletakkan bunga mawar putih itu di sebelah kasur, persis di sebelah posisiku tidur. Aku bahagia dan senang mencium baunya, jadi ya aku lakukan saja.