Yessi Pratiwi Surya Budhi
I Have My Say. What Is Yours?

Resonansi

By Yessi Pratiwi Surya Budhi

Katakanlah kamu merindukannya.
Lama memendam hasrat, dan ingin segera berlari memeluknya.

Dan ketika retinamu menangkap sosoknya, degup itu kencang terdengar.
Pun walau itu hanya di dalam mimpi.
Pun ketika jarak menjadi konstrain yang membuat semuanya berbatas.
Sementara aku jadi geli sendiri.
Bagaimana kamu membaca pikiranku.
Bagaimana kamu duluan mengungkapkan sesuatu yang tadi ingin aku ucapkan lebih dulu.
Hei, adakah hati kita telah beresonansi? :)

 

Bukan Via Facebook

By Yessi Pratiwi Surya Budhi

Dia masih saja mengutak-atik keypad selularnya. Tampak asik dengan dunianya sendiri. Yang lain padahal lagi seru ngobrol, tukar cerita, tertawa dengan ceria. Saya sibuk memperhatikan tingkah laku mereka, termasuk yang lagi autis itu. Sambil icip-icip makanan dan sesekali menimpali percakapan, tentu saja.

Kira-kira, apa yang sedang dilakukannya? Kenapa asik sendiri?

Inilah salah satu dampak Facebook. Well, biar lebih fair, sebut saja Social Networking media. Bercengkerama dengan teman di dunia maya tampak lebih asik. Teman yang di hadapan malah dicuekin. Hahaha, lha koq jadi saya yang riweuh. Habis, apa ya? Jejaring sosial yang kita ikutin memang nambah temen. Bayangkan saja, ada teman yang sudah begitu lama nggak ketemu, tiba-tiba nongol di Friend Request kita. Aha, senangnya!

Tapi, apakah lantas deretan friends yang banyak di dunia nyata itu juga menandakan kuantitas teman kita di dunia nyata? Mungkin nggak. Intinya kan, kita berusaha menjalin komunikasi via berbagai media. Facebook terasa menjadi pilihan yang paling nyaman : bisa lihat foto, video, say hai di wall, menyapa sana sini, komentar sana sini, buat note, atau bahkan kirim-kirim hadiah. Canggih, user friendly, asik : semuanya dalam satu kemasan.

Saya nggak bilang komunikasi via Facebook itu nggak bermutu. Hanya saja, fenomena yang saya amati di sekitar seakan memperlihatkan bahwa telah terjadi salah kaprah. Via komunikasi yang bermutu, kita bisa menyampaikan maksud dengan gamblang; termasuk via Facebook, mungkin. Tapi kita minta tolong tetangga saat istri mau melahirkan, nggak via Facebook. Kita tau salah seorang teman kita sedih dan butuh semangat, bisa jadi nggak via Facebook. Rumah kita kebakaran karena kompor gas dan mengingatkan tetangga untuk lebih hati-hati, juga nggak via Facebook. Saat dua orang berkomunikasi langsung, kita bisa melihat ekspresinya. Menelaah bagian mana yang terdengar kritis dari ucapannya, dan merasakan emosinya. Lewat inilah kemudian kita merasakan empati dan simpati. Berteman juga begitu. Bertetangga juga begitu. Berkeluarga juga begitu.

Kamu nulis selamat ulang tahun di wall teman, atau komen di statusnya, rasanya beda dengan kamu kirim SMS ke dia langsung. Apalagi jika langsung bertemu, ditambah pelukan dan ciuman, misalnya.

Lakukan saja semua pada kadarnya : jangan sampai teman kita nggak lebih berharga dari tulisan di wall, atau komen di status :)

 

Ketika Hidup Tidak (Bisa) Dirayakan

By Yessi Pratiwi Surya Budhi

Saya sering berandai-andai. Seandainya di dunia ini nggak ada kopi, musik, dan pria. What a cold and flat life we have, hahaha :)

***

Kemudian beberapa orang teman dari Siaware mengajak saya--akhir tahun 2008--ke sebuah tempat, Pasar Ciroyom. Awalnya, belum terbayang sama sekali, akan seperti apa wajah anak-anak jalanan yang akan saya temui. Teman saya cuma mengingatkan, jangan kaget kalau mereka bau dan kotor. Saya pun siap mental. Tiba disana, beberapa orang anak berlarian ke arah saya, menanyakan nama dan menciumi tangan saya. Pada kunjungan berikutnya, saya pun akhirnya sudah terbiasa disambut, "Assalamu'alaikum Kak Echi.."

Jika tulisan mampu mengungkapkan kesedihan dan derita mereka, mungkin saya nggak perlu bercerita dan susah mati mencari kata-kata yang pantas. Mereka ngelem. Bau. Nggak punya tempat tinggal. Tidur di bawah dipan tempat sayur mayur pedagang Ciroyom. Umur belum 15 sudah menjadi PSK. Ini beberapa gambar yang saya ambil beberapa waktu lalu. Gambaran hidup mereka. Mereka nggak lagi kepikiran untuk menikmati kopi, atau musik. Atau kuliah, atau sekolah. Baca tulis saja cukup, itu pun kalau sempat sekolah. Mereka nggak lagi kepikiran buat beli barang-barang bermerek, hidup cukup dijalani untuk hari ini saja.

Bahagianya saya karena mereka sudah ada yang mengkoordinir, Pak Gamesh namanya. Sekarang mereka sudah punya rumah belajar, walau di ruangan 3x3 meter itu, mereka yang berjumlah 20 an harus muat. Harus muat, mungkin akan lebih hangat karena tidurnya berdesakan. Rekan-rekan dari IBU Foundation, UPI, dan Siawares juga banyak yang berpartisipasi. Barangkali teman-teman mau berbagi kebahagiaan. Datang saja ke Pasar Ciroyom. Atau yang nggak sempat kesana dan mau memberikan bantuan, hubungi saja Pak Gamesh, di 081394670169.

Ohya, kemarin kita nonton bareng film Kungfu Panda, duh, bahagianya melihat wajah mereka. Melihat mereka tersenyum--biar sebentar--seperti jadi terapi kebahagiaan tersendiri. Dan saya nggak berhenti berucap syukur. Biar hidup susah (versi saya), tetapi masih banyak cinta disana sini.

Yuk ah
, kita beri cinta juga dalam hidup mereka.

Lihat juga apa kata Boma.

 

Alumni (ITB) Narsis

By Yessi Pratiwi Surya Budhi

Saya jadi geli sendiri melihat pampangan sebuah poster caleg. Calon legislatif. Alumni ITB. Catet itu. Soale posternya bilang demikian.

Embel-embel "Alumni ITB" yang disematkan di pojok kiri poster mungkin telah melalui analisis tersendiri. Oh Well, Bapak Ir. Alex SF yang narsis, apa tim suksesnya yang kelewat proaktif ya? :)

 

Pursuit of Happiness

By Yessi Pratiwi Surya Budhi

Apa yang ditulis seorang penulis memang tidak jauh-jauh dari apa yang Allah tulis dalam hidupnya. Lupakan sejenak terminologi Penulis yang ada di benak Anda. Kali ini, biarkan saya menulis apa yang ingin saya tulis.

Saya tidak punya begitu banyak ide jika ditanya alasan, mengapa Thomas Jefferson memasukkan hak untuk mengejar kebahagiaan dalam United States Declaration of Independence. Ia menulis, ada 3 hak yang tidak dapat diganggu gugat : Hak untuk hidup, bebas, dan mengejar kebahagiaan. Mereka menyebutnya Life, liberty and the pursuit of happiness.

Terlepas dari film Pursuit of Happyness yang membuat saya menitikkan air mata dan rela menontonnya berkali-kali, mengejar kebahagiaan buat hampir semua pribadi di muka bumi ini tentu saja : punya jalannya sendiri. Saya percaya itu.

Ada 1001 jalan menuju bahagia. Seperti minum teh. Seperti berkumpul dan bercengkarama dengan sahabat. Seperti menghirup pagi. Seperti memeluk orang yang dikasihi. Seperti teriak di alam bebas. Seperti mendengarkan musik. Seperti memeluk orangtua disaat wisuda. Seperti memakai baju yang cantik. Seperti berbagi dengan sesama. Seperti telanjang di dalam bath tube. Seperti melupakan masalah yang datang silih berganti. Seperti berserah diri. Seperti memilih untuk selalu bahagia.

Saya memilih jalan saya sendiri. Semoga beririsan dengan jalan baik yang sudah ditetapkanNya. Selamat berbahagia semuanya! Ngomong-ngomong, ini hari Senin yah ternyata :)