Yessi Pratiwi Surya Budhi
"Gak Cerita Gak Asik"

Bersenjatakan dua gelas kopi malam tadi, saya telak terjaga semalaman. Niat mau mengerjakan sebuah deadline tugas antah berantah, Pemodelan namanya. Setelah minggu kemarin tewas tak berdaya gara-gara kelenjar (lagi), hutang pada teman kelompok kian menumpuk. Maafkan keabsenan saya, untuk Dia Yang Berkehendak.

Detik-detik sepi. Sejam dua jam. Menjelang Subuh, entah darimana bulir bening itu menetes. Membasahi pipi, jatuh ke lutut saya yang ditekuk menghadap meja komputer. Saya lupa kapan terakhir kali menangis, bahkan lupa caranya. Menertawakan kesusahan dan kesedihan sudah seperti opera rutin yang menggembirakan. Sudah, diam saja, nggak usah nangis. Stok airmata sudah habis.



Lantas, apa yang saya tangisi sekarang? Astaga, hidup saya sekarang benar-benar sempurna namun tidak bersyukur. Anggota tubuh lengkap dan tidak cacat, lupa bersyukur. Bangun setiap pagi masih hidup dan bisa menghirup pagi, lupa bersyukur. Diberi kesempatan mereguk cinta yang demikian indah, lupa bersyukur. Selalu merasa kurang dan kurang. Saya benar-benar gila untuk tidak punya otak dan menganggap anugerah gratis ini akan saya nikmati selama-lamanya, dalam limit tak hingga. Sementara hidup kita adalah cetakan limited edition yang bukannya menuntut pemborosan, tapi utilisasi.

Mungkin ini alasan mengapa saya tidak posting dan kehilangan inspirasi. Tidak tau apa yang bisa ditulis, sementara begitu banyak hal luar biasa yang dihadiahkan setiap harinya. Kurang bersyukurkah saya?

Mungkin prinsip “menjalani hidup dengan fun dan menjalaninya sebisa mungkin” harus diganti. Gantikan frase kedua dengan “mensyukurinya senikmat mungkin”.

Damn.
LEGA.
Tumpahlah semua airmata itu.


Makan nasi putih tempe tahu telor oseng pakai kecap yuk?

 

Beuh. Apa pula ini?

Calm down, baby. Rileks. Tenang. Nyante aje.

Adalah seorang ibu dan anaknya yang menemani perjalanan saya ke Cisitu kemarin.
Ibu berkata,

Nanti kalau adek masuk ITB, terjamin masa depannya. Anaknya pinter-pinter, paling pinter dari seluruh Indonesia. Keren lah!

Dalam hati saya senyum-senyum saja. Ah, belom tau nih, si Ibu :)

Kebanggaan pada almamater, tentu saja ada.Tapi bukan itu yang saya maksud. Saya nggak bangga-bangga amat jadi anak ITB.

1. Karena nggak banyak diantara kami yang berani menjadi entrepreneur dan menciptakan lapangan kerja. Kami masih begitu ngiler pada gaji besar. Yea, no need to answer. Ini bukan pertanyaan, mungkin pernyataan.

2. Katanya sih, kami kuliah di institut terbaik nusantara. Ah, belum ada statistik tentang itu. Toh, kami belum bisa buat solusi praktis buat masalah sampah di Bandung. Jangankan di Bandung, yang di sekitar kampus pun nggak bisa kami urus. Lewatlah di gerbang depan, jalan Taman Sari atau Jalan Ganesha. Sampah dan aromanya yang semerbak harum akan mengisi ruang otak Anda dan menjadi kenangan tersendiri tentang kampus ITB. Hahaha.



3. Kami punya IQ tinggi. Ah, kata siapa? Sebagian diantara kami, iya. Tapi sebagian lagi, nggak koq. Setiap tahunnya, kami megap-megap dan menahan nafas menanti keputusan rektor, “siapa teman kami yang akan di DO tahun ini?”

4. Kami nggak boleh menginjak rumput di beberapa tempat khusus :)
5. Kami nggak bisa meramaikan kampus sampai larut malam, karena gerbang akan dikunci. Kalau bisa Ce-eS an dengan satpam, lain ceritanya :)

6. Kampus kami sekarang sudah semakin bagus dan “wah”. Tapi beberapa gedung kuliah yang terlalu tinggi masih menyiksa. Nggak ada lift. Teman kami pun kerap kambuh asmanya karena ngos-ngosan dulu sebelum nyampe di ruang kuliah.


7. Laju pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang berdistribusi hipergeometrik tidak sebanding dengan pertumbuhan luas areal parkir. Akhirnya, parkir di luar kampus adalah pilihan. Jalanan jadi macet. Habis gimana lagi? Anda tanya kami, kami tanya siapa? Google? :?

8. Kami kerap diusir sama pegawai Program Studi kalau masih berada di ruangan kelas diatas jam 5. “Mau dikunci dek! Bilang sama dosennya, cepat keluar!”

9. Beberapa dosen nggak memberikan toleransi telat 1 menit pun. Kalau dia yang telat 20 menit? Dia boleh masuk? Huehehe. Ya boleh lah. Kan dia dosen :)

10. Dikasih tugas menerjemahkan buku. “Buat power pointnya ya!” Eng? Ini buat gantiin bahan ngajar bapak ya? Asal masuk nilai aja ya Pak. Aturlah..

11. Sejam sebelum kuliah : “Jarkom : nggak ada kuliah hari ini”. Bah! Yang udah nyampe kampus pun pulang dengan hati tersayat-sayat. Huahahaha

12. Kamis ini dan Kamis minggu depan, kuliah ditiadakan. Harap maklum, dosen sibuk. Kita ganti kuliah Kamis depannya. 6 jam sekalian! Eng ing enggggg

Jangan tanya, kenapa ada tulisan seperti ini. Haha, anggap aja ini tulisan ada di kategori “naon sih gue?”. Dibuat asik aja.

Selebihnya, pesan nenek, jangan takut masuk ITB. Karena untuk Anda yang mau berusaha, tersedia banyak beasiswa, opportunity, kemudahan, kesempatan, teman baik, dosen keren, unit-unit nyentrik, KM tempat berkarya, Campus Centre, kantin murah, himpunan, kecengan, orang-orang hebat, dan lain-lain.

Termasuk master kuliah dan tugas-tugas yang akan diturunkan secara turun temurun, dalam rangka mempermudah proses belajar mahasiswa ITB di jurusan manapun, kapan pun. Hahaha, frik! :D

 

Bokek Tingkat Tinggi

By Yessi Pratiwi Surya Budhi

 

Kencan Dengan Tuhan

By Yessi Pratiwi Surya Budhi


“Dinda, udah ganteng belom?”
“Udah..”
“Beneran?”
“Ho oh.."
"Bener nih?"
"Iye! Idih, kamu tuh, mau sholat apa mau kencan sih?”
Chi..ketemu kamu aja aku ganteng, apalagi ketemu Tuhan?

 

Puas Vs Loyal

By Yessi Pratiwi Surya Budhi

Gambar ini saya ambil dari depan Rumah Makan Cibiuk yang letaknya di pertigaan Sangkuriang, depan Cafe Halaman.


Pertama kali saya lihat itu tulisan, agak ragu. Lirik lagi!


Lantas.. Wow! Rumah makan satu ini mengadaptasi teknik marketing yang sedang populer sekarang. Menarik konsumen dengan iming-iming hadiah mewah. Mewah, tentu saja. Semua orang juga sepakat kalau mobil, dan umrah adalah hal mewah. Saya nggak menemukan keterangan berlaku. Cuma ada logo sponsor, yang menandakan pasti ada prosedur khusus untuk mendapatkan hadiah tersebut. No further assumption :)

Bagaimana pun prosedurnya, manajemen rumah makan ini mungkin telah melakukan analisa terbaik. Terlalu dini rasanya untuk menilai hasilnya sekarang. Jumlah kendaraan yang parkir di depan rumah makan belum terlihat meningkat signifikan, semoga saya salah.

Cuma, hal terpenting dalam marketing dan sustainability usaha begini bukanlah sekedar menarik konsumen. Produk yang dijual adalah produk yang dirasa dengan lidah, dibayar dengan uang, dan dirasakan kenyamanan dan pelayanannya dengan persepsi konsumen. Sikap konsumen yang tertarik dengan hadiah masih bersifat temporer, mungkin belum akan menghasilkan perilaku membeli permanen. Kepuasan pasti nomor satu. Jika konsumen puas, perilaku konsumen yang loyal mungkin akan lebih mudah terbentuk.

Lantas, apakah strategi iming-iming hadiah mobil, motor, dan umrah ini salah? Saya nggak bilang demikian. Hanya, Prof. Dr. Yessi Pratiwi Surya Budhi menilai, langkah ini selangkah lebih maju dari langkah yang seharusnya terlebih dahulu ditempuh : membangun image/ keunikan RM. Cibiuk sendiri yang membedakannya dengan rumah makan lain. Keunikan usaha, produk, dan layanan akan membangun basis konsumen sendiri. Jadi, apapun nanti promo yang digencarkan, Insya Allah konsumen tetap loyal. Volume konsumen tidak bergantung kepada periode promo. Nah, itu maksud saya. Ilmu yang masih nanggung ini tampaknya riskan sekali menimbulkan multipersepsi yang berbeda :(

Apakah profesor-profesor lain punya perspektif sendiri?